Sunda Nagara

oleh Tjetje H. Padmadinata

Esai Pengantar Materi “Politik di Jawa Barat, Dahulu, Kini, dan Esok”

Pelatihan Kepemimpinan Putera Sunda 9, 13-19 November 2011

Yang dimaksud dengan Sunda Nagara adalah kesadaran bernegara di kalangan orang-orang Sunda dari zaman ke zaman, setidaknya selama kurun waktu ratusan tahun menurut ukuran sejarah. Selain Sunda Nagara, ada juga Sunda Budaya dan Sunda Usaha. Ada baiknya menyepakati pendapat Dr. Saini K.M. yang membatasi garis pewarisan politik Sunda pada: (1) Galuh; (2) Padjadjaran; (3) Sumedang Larang, dan; (4) Ukur). Wiranatakoesoemah V (Dalem Haji) mengatakan “In’t heden light ‘t verleden, in ‘t nu wat worden zal” (Dina kiwari ngancik bihari, seja [daya] ayeuna sampeureun jaga). Demikian pula Sir John Seely dari Inggris: “History is past politics, present politics future history”.

Sejarah mengandung tiga unsur besar: (1) struktur; (2) kultur, dan; (3) figur. Kebudayaan merupakan produk interaksi dari/antara Manusianya dan Lingkungannya(Masyarakat dan Alamnya). Maka, berbicara tentang Sunda mencakup Manusianya, Budayanya, Alamnya. Boleh diperluas dengan sejarahnya dan cita-citanya, Das Sein dan Das Sollen, dsb.

(SUKU) bangsa Sunda pernah begitu lama dimanja oleh alam dengan akibat kurangnya etos kerja. Sekarang, alam sudah tidak lagi memanjakan orang-orang Sunda. (CATATAN: Lagu kawih “Kuring Leungiteun” karya Yus Wiradiredja dan Djahir Zakir). Sebagai dampak-akibat dari kemesraan antara manusia Sunda dengan alam sundabaheula, maka pada umumnya orang-orang Sunda bersifat watak damai (peace-loving people). Kesuburan alam Sunda, tidak memberikan alasan bagi orang-orang Sunda dahulu untuk menjadi perantau.

KENEGARAWANAN Sunda bersifat sebatas protektif-defensif, tidak punya ambisi untuk ekspansi politik-teritorial. Orientasi kenegarawanan Sunda adalah kesejahteraan rakyat (public welfare), tidak menganggap penting untuk membangun monument-monumen fisik. Dengan “ideologi” semacam itu, maka kenegarawanan Sunda tidak menganggap penting adanya angkatan perang yang kuat, dengan akibat dikalahkan oleh musuh-musuh dari luar. Hal tersebut sangat berbeda dengan adagium “Ci Vis Pacem Para Bellum” (untuk memelihara kedamaian, maka harus siap berperang).

(SUKU) bangsa Sunda pernah lama dan sering dijajah, dengan akibat kurangnya etos perlawanan. Sekarang, untuk tidak pernah dijajah lagi (dalam segala bentuk-perwujudannya), maka orang-orang Sunda perlu etos perlawanan.

Pada umumnya orang-orang Sunda cenderung moralis (benar-salah), bukan politisi (menang-kalah). Kebanyakan orang Sunda kurang punya ambisi politik (kekuasaan, jabatan), sekali ada – ambisi dan korupsinya luar biasa! Pada hakikatnya orang-orang Sunda adalah orang-orang baik, akan mulus-rahayu kalau bergaul dengan sesama orang baik.

SIKAP mental-budaya kalangan elite Sunda dikenal individualistic, sebagai warisan mental-budaya ngahuma (ladang) dan di zaman Hindia-Belanda termasuk paling dahulu dan paling banyak menikmati pendidikan modern. Orang-orang terpelajar dan terdidik, pada umumnya memang individualistic.

Kritik terhadap ambtenarisme elite Sunda tidak keluar dari kalangan politisi atau jenderal, tetapi dari kalangan sastrawan, seniman, budayawan. (CATATAN: Lagu dan kata-kata dalam “Ayang-Ayang Gung”). Budayawan yang baik, memang dan sungguh merupakan mentarinya siang dan rembulannya malam.

DALAM sejarah (sampai dengan sekarang?) perjuangan Sunda tidak banyak dikenal petarung (fighter), mungkin karena warisan cinta damai dan individualistic itu tadi. Ki Sunda (The Fighting Sundanese) sampai sekarang dikenal multi-polar (banyak kelompok) dan multi-pilar (banyak tokoh, atau merasa diri sudah tokoh). Dalam pluralism dan heterogenitas pejuang Sunda tersebut yang kurang adalah komunikasi, koordinasi, dan sudah barang tentu sinergi. Sulit sekali di kalangan elite Sunda disepakati adanyaprimus inter pares, yang perdana di antara yang sama, one de facto and undisputed leader.

MODERNISASI (reformasi) Sunda adalah jawaban untuk Sunda yang bermartabat, lebih beorientasi ke masa depan tanpa meninggalkan purwadaksina-purwawiwitan. Perlu dilakukan inventarisasi, evaluasi dan definisi baru terhadap nilai-nilai budaya Sunda yang tradisional-konservatif. Harus membumikan nilai-nilai Sunda langitan pada kenyataan hidup keseharian, menyelaraskan antara idealisme dengan pragmatisme dalam artian yang positif (nilai kegunaan).

Tanpa memiliki daya-saing yang kompetitif di berbagai bidang kehidupan, akan sulit bagi Sunda untuk bisa selamat apalagi unggul. Iman-taqwa harus seimbang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, harmoni antara iman dan iptek. Kebudayaan adalah produk zamannya, anak manusia adalah anak zamannya.

Ada kata-kata berlian dari Profesor M.T. Zen dari ITB: “Only the productive can be strong, and only the strong can be free”.

            Serba nilai ke-Sunda-an harus membumi, memiliki kegunaan dalam kehidupan keseharian. Zaman sudah berubah, sedang berubah, dan akan terus berubah. Maka, pilih dan tentukan yang mana-mana dan apa-apa saja yang sebaiknya atau harus tetap.

Reformasi (modernisasi) Sunda diantaranya adalah:

(1)  Adanya keseimbangan antara romantic (rasa) Sunda dengan dinamik (daya) Sunda;

(2)  Adanya keseimbangan antara kepemimpinan personal (pribadi) dengan kepemimpinan institusional (lembaga);

(3)  Adanya keseimbangan antara budaya lisan (tutur-kata) dengan budaya tulisan, dan;

(4)  Tidak terus-menerus mulek-ngubek (statik-stagnan) dalam ritualisme, simbolisme, seremonialisme, sloganisme.

Sunda harus berani dan mampu merubah kebiasaan mangga ti payun menjadi punteun kapayunan di berbagai bidang kehidupan. Ideologi ramalan (prophetic ideology) ugaSunda harus diartikan urang gawean, bukan ditunggu-tunggu! Pajajaran Anyar, Sunda Anyar  berarti Sunda-Nusantara (Sunda-Indonesia).

Jatinangor, 3 November 2011

Tjetje H. Padmadinata

Advertisements