Tanda Tanya

Ada mata kuliah film ternyata di SKS saya, dan lumayan seneng banget bisa belajar nulis skrip dsb. Nah ada tugas bikin skrip dari salah satu fotage film, eh jadi ketagihan karena kita mesti jeli frame by frame nya, ekspresi diitung per detik juga, saya kasih contoh aja nih skrip bikinan saya dari film ‘Tanda Tanya’ dan ini adegan favorite saya;

Hendra berjalan jalan mengelilingi kampung. Ia tak sengaja menemui Menuk yang baru saja pulang dari tarawih. Hendra ingin menghindar, ia cepat cepat pergi. Namun Menuk dengan cepat menyusulnya, Menuk mengejarnya sampai di gang perumahan pecinaan.

“Koh.. Koh Hendra,” Menuk memanggil.

Hendra tetap berjalan, seolah tak ingin mendengar panggilan Menuk.

“Koh..!” Suara Menuk lantang, Hendra berhenti tanpa berbalik kebelakang.

“Kamu tahu dari dulu kan, kalo saya gak suka di panggil Kokoh,” Hendra mulai bersua.

“Maaf Mas,” kata Menuk lembut.

Hendra menoleh ke belakang, melihat Menuk yang masih memegang mukena dan sajadah. Menuk mendekati Hendra.

“Maaf kalo saya pernah menyakiti hati Mas Hendra, saya tahu dulu kita pernah..” Menuk menghela, Ia tak menyelesaikan kalimatnya.

Hendra sama sekali tak menatap Menuk. Ia tampak luluh kali ini.

“Kita punya cerita, yang mungkin menurut Mas Hendra itu gak enak, tapi buat saya itu anugerah,” perkataan Menuk bergetar, Ia sepertinya ingin menangis.

“Karena Tuhan memberitahu saya bagaimana mencintai, walaupun agama kita berbeda,” Menuk mulai mencucurkan air matanya.

Hendra tertegun, Ia mulai menatap Menuk serius.

“Saya mohon jangan melampiaskan marah Mas Hendra sama suami saya, atau ke orang tua Mas Hendra, itu aja Mas,” Menuk menghela.

Hendra kembali memalingkan wajahnya dari Menuk. Menuk segera meninggalkan Hendra,

“Assalamualaikum,” tandasnya.

Menuk ragu melangkah, melihat Hendra yang tiba tiba menunduk. Langkah Menuk menjauh, Hendra memerhatikannya,

Ia mengatakan “Waalaikumsalam,” lirih berbisik.

– Tanda Tanya