My December

Kisah apik di bulan yang selalu hujan, tentang titik-titik penting yang akan selalu singgah. Desember penuh kejutan, bulan penuh kenangan untukku. Merendam sejuta perasaan di dalamnya, yang sesaat akan terapung kembali.

Tak sadar umurku sudah bertambah, doktrin “3 pertanyaan Ibnu Qoyyim” yang harus bisa dijawab yaitu pada usia 20, 40, dan 60 ingin menjadi apa?, akan mati dikenang sebagai apa?, dan akan mati dalam keadaan yang bagaimana? Membuatku harus bijak hari ini. Rasanya sulit mempercayai aku sudah melewati fase belasan tahun, memikirkan pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin, oh belum sempat. Payah sekali.

Rasanya baru kemarin aku menikmati jagung bakar di sungai cimanuk bersama teman-teman sebayaku pada saat kelas lima SD. Atau tentang cerita saat aku tersesat di pasar bersama bibiku saat berumur empat tahun. Atau tentang perkataan guru ngajiku, “Gunakan umurmu sebaik-baiknya, waktu dunia ini singkat”, yang sampai saat ini membekas dalam ingatan. Kisah lainnya, aku masih ingat dan selalu ingat.

Lalu Desember adalah penghujung tahun, bulan lahirku, dan bulan yang penuh perayaan. 22 Desember dua dekade lalu, aku dilahirkan. Nenek bercerita “kau dilahirkan saat tengah malam, dua hari setelah perayaan hari raya idul adha,” lalu Pamanku menambahkan “kau lahir saat Indonesia menjadi juara bulu tangkis dunia di olimpiade”, atau cerita ayahku yang selalu bangga pada B.J Habibi “Kau beruntung nak, kau lahir pada saat Habibi menerima penghargaan Von Karman”, dan cerita guru-guru SD-ku yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun pada 22 Desember “Wah hari ulang tahunmu bertepatan dengan perayaan hari ibu. Selamat ya!”. Aku tak tahu persis, apa hubungannya kelahiranku dengan peristiwa-peristiwa itu. Yang pasti tanggal kelahiranku adalah moment yang gampang di ingat.

Aku pernah berkata pada temanku yang akan bertambah usianya, “Katanya, kalau angka umurmu dibelakangnya ada nol maka satu fase hidup sudah terlewati, kau akan melewati hidup baru dimana nilai-nilai hidup akan kau dapatkan”, entahlah aku dapatkan darimana kalimat itu.

Hari ini aku bersyukur, setahun belakangan aku semakin berusaha mencari apa yang sebenarnya berarti untukku. Aku sadar hidup ini singkat. Aku perlu membuat sejarah untuk diriku. Atau bahkan untuk banyak orang, sejarah yang hebat yang menyadarkan banyak orang. Entahlah, aku belum memikirkannya.

Desember. Aku sama sekali tak pernah membuat semacam kaleidoskop untuk tahun mendatang. Waktu-waktu selanjutnya adalah misteri. Umurku kini semakin bertambah, aku ingin merencanakan langkah pasti. Memikirkan hidup dengan banyak pilihan dan pertimbangan. Melakukan hal-hal yang memang pantas untuk kulakukan.

Desember. Tanah semakin basah, aku semakin suka. Hanya bau segar yang selalu kucium sesaat setelah hujan. Aku menikmatinya. Banyak yang bilang hujan adalah anugerah. Tanda cinta Tuhan pada makhluknya. Aku yakin, usiaku diciptakan tuhan untuk selalu berkah. Selalu mengingatNya, selalu mensyukuri hidup.

Desember adalah peringatan. Sebuah hentakan dimana aku perlu merefleksikan hidup. Sebuah moment dimana diri ini hanyut mendalam. Penuh arti. Desember adalah natal. Desember adalah perayaan tahun baru. Desember adalah salju. Desember adalah euforia. Desember adalah duka, ketika Desember 1996 Ibuku pergi meninggal dunia. Desember adalah cinta, ketika keluarga merayakan satu hari spesial untuk seorang Ibu. Desember adalah perjuangan, ketika aktivis muda Indonesia, Soe Hok Gie meninggal dunia di puncak mahameru. Dan Desember adalah kisi-kisi hidup tentang rahasia waktu.

Desember. Dalam hujan kuberdoa. Aku cita-citakan hidupku akan bermakna. Aku bermimpi suatu saat dapat mencapai apa yang menjadi idamku. Memenuhi kehausan tekadku akan esensi kebajikan. Menetaskan kepelikan akan rahasia hidup. Berkahkan umurku, indahkan usiaku.

Tanggal 22 Januari 1962, Soe Hok Gie menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Untuk Desemberku selanjutnya–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s