Inikah Dejavu?

Sebuah narasi tentang waktu dan dejavu

*music background : Fiersa Besari

Advertisements

Perbincangan Dengan Ratu

Dalam perjalanan hidupnya tidak setiap orang bertemu dengan teman dekatnya. Yang karena dekatnya lalu disebut sebagai sahabat. Saatnya akan tiba, ketika kita mulai membicarakan sahabat ini pada orang terdekat kita di masa depan. Seperti saat ini ketika kita membicarakan tentang masa depan dengan seorang sahabat.

Muda. Kata itu selalu terasa begitu bergairah, penuh semangat, kuat. Dan kapanpun kata itu diucapkan: Masa depan selalu terbayang bagai bentangan waktu yang panjang. Ratu selalu memperbincangkannya denganku. Masa depan adalah topik yang seru untuk diulas. Kita menerka-nerka, menebak-nebak, dan penasaran karenanya. Mungpung kita masih muda, Ratu mengatakannya; himpun semua harapan saat ini, maka suatu saat ia akan meledak bagai bom atom yang tak terbendung kekuatannya. Kemudian kita terhempas seketika terbawa pada sebuah pertemuan, karena harapan telah berwujud menjadi kenyataan.

Apakah harapan hanya utopia yang dengan berjalannya waktu akan hilang ditelan pikiran?

Kita menjawabnya sama. Harapan adalah akar-akar dari mimpi, ia melengkapinya dan menguatkan mimpi menjadi nyata. Seperti seorang petualang kecil yang tinggal di pegunungan, ia ingin bertemu dengan samudera. Ia hanya memimpikannya. Hingga suatu hari petualang kecil menyusuri sungai dengan menaiki kayu gelondongan. Ia melewati air terjun, bebatuan, dan derasnya air sungai. Tak dikira, petualang kecil menemui bibir pantai, sungai membawanya ke laut. Kini impiannya berada di depan mata. Ya, samudera sungguhan.

Aku bertanya pada Ratu; apakah kamu merasa ketakutan, jika sendiri menyusuri sungai serupa bocah petualang itu?

Pada mulanya kita memang sendiri. Dan seharusnya manusia mengurusi dirinya sendiri. Tiap-tiap orang pasti akan melewati lembah itu, bebatuan itu, dan deras itu. Ya, dalam hidupnya. Sekali-kali mungkin orang lain akan menolongmu. namun catat, tak akan selamanya orang lain siap siaga menolongmu. Dirimulah yang paling menyayangi dirimu sendiri. Tolonglah dirimu dan redam rasa takutmu.

Awalnya aku merasa takut, ketika hanya sendiri melewati sebuah perjalanan. Rasanya tak ada yang berpihak padaku saat itu. Hingga aku merasa menjadi manusia paling dikhianati, atau paling bermasalah, dan paling tidak beruntung. Aku pernah merasa tak punya teman untuk sekadar mendengarkan apa yang kurasakan. Tapi aku menyadari, aku hanya perlu mendengarkan diriku sendiri, menolong diriku dari rasa takut dan keterpurukan, lalu berterimakasih pula pada diriku sendiri.

Ratu balik bertanya padaku; namun setelah aku berani menaklukan takutku, aku merasa kesulitan dalam menentukan pilihan. Apakah keberanianku tidak utuh, sehingga menyisakan keragu-raguan?

Keraguan itu semacam ruang antara anak tangga yang di bawah menuju anak tangga yang atas. Ragu adalah saat kamu berada di antara keduanya. Kakimu mengambang menghadap sudut sembilan puluh derajat. Padahal sudah jelas kamu harus naik ke atas, mana mungkin kamu menyusuri tangga dengan berjalan mundur ke bawah. Sedangkan pilihan menantimu menunggu jawaban. Kamu tidak akan lama-lama berada di ruang keraguan. Kamu hanya perlu memijakan kakimu di anak tangga selanjutnya. Itu berarti, pilihanmu adalah pilihan yang menentukan dirimu maju ke atas menuju kepastian selanjutnya. Sebetulnya tidak sulit, kadang kita diberikan pandangan lain sehingga harus menengok kebelakang dulu sebentar.

Ratu, tapi aku makin penasaran. Apakah benar kita dapat menaklukan semua cemas dan kekhawatiran kita? Kadang aku malah merasa bukan apa-apa ketika melihat orang lain berjalan jauh di depan kita. Menambah kecemasanku saja.

Aku ingin mengatakan sesuatu yang tak perlu menjadi pelajaran untuk kita hari ini. Seseorang yang dianggap total dalam pekerjaannya mendapatkan pengakuan karena dibelakangnya ada orang yang benar-benar tidak total. Kita memang tidak harus sama. Mungkin saat itu, kamu menghantarkan orang yang totalitas itu pada eksistensinya yang menjadikannya lebih daripada dirimu yang tidak berderajat totalitas. Tapi, sepertinya kalimat klasik ini akan selalu berlaku “Hidup itu berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah”, kita tak selamanya harus menjadi orang yang tidak total. Kadang kita punya kesadaran untuk mengejar ketotalan kita. Karena sudah jelas, yang totalitaslah yang terbaik. Lalu kenapa kita tidak melakukan totalitas secara bersamaan?; Aku sudah bilang, kali ini jawabanku jangan kamu jadikan pelajaran.

Ratu kembali mengungkap; aku masih penasaran soal masa depan. Kadang kita berubah pikiran saat sedang dalam perjalanan, kita ingin memutar balik atau hendak berbelok arah ditengah-tengah. Apakah kita telah mengkhianati diri kita sendiri sehingga harapan masa depan terlambat untuk dipegang?

Jika kamu mendapati dirimu cepat menyerah sekaligus inkonsisten dengan sejumlah tekad dan cita-cita yang sudah kamu pancangkan di awal perjalanan: Belajarlah menjadi sombong! Bukankah orang sombong selalu punya cukup alasan dalam hidupnya untuk bisa membuktikan semua perkataannya?

Jadilah orang sombong yang baik: tersebab sejatinya kesombongan sepenuhnya merupakan hak Tuhan, maka pinjamlah sebentar, lalu berjalanlah kembali dengan sungguh-sungguh untuk sampai pada pengertian bahwa kesombongan yang tak dibutuhkan jauh lebih hina dan lebih kerdil daripada kekalahan manapun. Dan jangan lupa berdoa: Semoga Tuhan lebih menyayangi orang sombong yang bersungguh-sungguh daripada seorang rendah hati yang pemalas.

Ratu, telah sampai kita pada perbincangan yang sejauh ini. Bagaimanapun juga membahas masa depan tidak akan pernah habis, sebab kita tahu masa depan adalah jerit pintu yang rusak pada esok hari, yang entah bagaimana mana bunyinya berderit. Kita tak akan pernah mengetahuinya. Namun aku hanya ingin meyakinkan, jika kita memperbaiki pintu itu sekarang maka tak ada lagi jerit pintu yang rusak esok hari. Semoga.

1

 

 

 

 

Garut, 3 Juli 2014

Wawancara Imajiner Bareng Maicel Andrea

Apakah kamu tahu dunia tempat kita saat ini adalah sebuah kejahatan? Di bumi inilah tempat manusia saling membunuh, tak berhenti menghujat, dan sekali-kali perang besar terjadi. Kalaulah begitu jadinya banyak anak-anak yang masih disembunyikan oleh para orangtuanya. Mereka takut membebaskan anak-anaknya keluar, “hiduplah dibalik jendela rumah agar kamu aman nak”, kata seorang ibu. Anak-anak sekarang seperti layang-layang yang terbang tanpa pernah putus, ia ingin terus bebas terbang namun benang masih tetap mengikatnya. Hingga suatu hari layang-layang lain menghampirinya, benangnya sangat kuat lantas memutuskan layang-layang tadi. Si layang-layang merasa kegirangan, ia pikir ia sudah terbebas dari genggaman sang tuan. Namun kebebasannya semu, ia tak bebas seutuhnya. Ia diterbangkan angin dan harus pasrah untuk jatuh kemudian.

Apa yang membuat dunia ini demikian? Kita ternyata tak punya kebebasan seutuhnya. Perjalanan hidup kita banyak dikendalikan benda lain. Tapi bukankah memang harus begitu? Ah, entahlah.

Apa mungkin kejahatan-kejahatan tadikah yang membuat seorang Maicel Andrea diberangus kebebasannya. Barangkali aku berpikir, temanku yang satu ini mengingatkanku pada kisah ashabul kahfi, kisah tujuh orang pemuda bersama seekor anjing yang dilelapkan oleh tuhan selama ratusan tahun disebuah gua. Mereka bukan tanpa alasan menunggu di gua, kedzaliman yang merajalela membuat mereka ingin mengasingkan diri untuk selanjutnya menunggu ketentraman datang. Betul saja, ketika Tuhan membangunkan mereka, rasanya masih ada kejanggalan dalam hati mereka. Kejanggalan yang terpendam atas ketakutan dari kejahatan-kejahatan yang berada diluar. Namun semuanya sudah tidak berlaku, pengasingan mereka selama ratusan tahun tak disadari membawa mereka pada sebuah masa yang fatih. Masa dimana kemenangan kebaikan berlaku dan kebebasan kebaikan hidup.

Nah, mungkinkah seorang Maicel Andrea berprinsip demikian? Ia hanya ingin menghabiskan waktunya di sebuah ruang kosan sampai memilih waktu yang tepat untuk keluar. Menghirup udara kebebasan sampai dunia reda dari kejahatan. Entahlah, aku hanya menerkanya. Karena kejahatan takkan pernah berhenti, sampai kapan ia akan seperti ashabul kahfi. Namun marilah kita simak wawancara eksklusif secara imajiner bersama sodara Maicel Andrea.

Adiel : Selamat malam Maicel, bagaimana keadaan hidup anda saat ini?
Maicel : Iya malam. Saya merasa hidup saya penuh makna dan sangat berarti setelah saya menyantap gorengan tempe kesukaan abi tadi sore. *kadang Maicel suka pake kata “abi” untuk mengganti kata “gua”
Adiel : kenapa anda gak bagi-bagi ke saya? saya kan juga lapar jauh-jauh dari kopo kesini jalan kaki.
Maicel : Mendingan beli lotek si Ema yang diatas, nih uangnya gua kasih.
Adiel : Ah, saya mah hayang nu seger-seger. Jus alpuket ada?
Maicel : sini atuh uangnya mana?
Adiel : Eh wawancara hela ih, ngadon kana hakaneun aja we haben.
Maicel : Iya atuh sok.
Adiel : Apa kabarnya projek TDM? Apa karya selanjutnya yang akan kamu rilis?
Maicel : O ya, TDM sekarang lagi cuti dulu anak-anaknya. Merekanya lagi sibuk jobtre dulu. Tapi kalo udah ngumpul lagi, kita punya rencana mau bikin video klip Agnezmo di Manglayang.
Adiel : kan dia udah punya yang kok batel. Di hollywood lagi bikinnya, Emang mau dibikinin lagi sama TDM?
Maicel : yang video music coke bottle itu kurang serius digarapnya sama mereka. Masa kemben si agnezmo kata si Dion mah nyengled dan mau ragrag katanya. Gua mah gak setuju sama si Dion, cuman ya TDM mau nyoba memperbaikinya aja. Ntar si agnezmo, rencananya mau disimpen di batu kuda.
Adiel : waw penomenal sekali. O iya, ceritakan dong kenapa kamu punya buku banyak sekali?
Maicel : ah biasa aja. Ini koleksi gua. Gua emang suka membaca, ini dikhususkan buat memanjakan diri gua di kosan. Selain itu, ini berguna banget buat menarik perhatian orang buat mampir ke kosan gua.
Adiel : manjanya ke buku ya. Emang temen-temennya tertarik mampir kesini karna buku-buku kamu gitu?
Maicel : enggak juga si, mereka datang bagai angin kencang yang menghempas sabana. Yang tersisa hanya bekas remahan makanan. Selain itu, yang menjadi daya tarik adalah alat kecantikan gua yang lengkap. Kadang-kadang mereka datang buat perawatan disini. Tapi kadang-kadang buku juga banyak yang minjem, terus lama gak dikembaliin.
Adiel : oh gitu ya, apa hidup kamu gak menderita digituin terus?
Maicel : gak ah. Yang ada, gua mah seneng aja. Apalagi kalo ngajak mereka diskusi.
Adiel : wah Maicel emang hebat ya. bukunya banyak, terus suka diskusi lagi. karakter pemikir ya. Emang suka diskusi apa aja gituh?
Maicel : ya banyak, topiknya agak berat juga sih. Kita biasanya diskusi soal perkembangan artis-artis hollywood gituh, soal film, video klip, lagu-lagu barat. Yang paling ekstrem pernah ya gua sampe malem-malem debat soal Justin Bieber sama si Dion. Masa ya si Dion bilang, JB tuh artis cilik. Padahal semua orang udah tau JB kan artis remaja, pacarnya juga gua tau si Tailor Swift kan. Si Dion mah payah debat kayak gituan.
Adiel : hehehe -_-“
Maicel : terus ya, si Dion bilang kenapa si agnezmo tuh duetnya gak satu-satu aja sama artis-artis yang di lagu kok batel itu. Padahal kan udah bagus dia, mendingan gitu aja udah.
Adiel : oke, oke. Saya lanjut ke pertanyaan selanjutnya ya?
Maicel : mmmmmh, oke. Bentar, gua minum dulu. Sori tolong pompain airnya buat gua!
Adiel : ssssshhh nih! Maicel katanya dulu kamu punya kucing ya? ceritain dong tentang kucing kesayanganmu itu.
Maicel : kenapa sih harus nanya soal Jilly, bikin gua sedih aja.
Adiel : sori, sori. Siapa tadi nama kucingnya? Jeli? Geli? Lili?
Maicel : namanya Jilly. Lengkapnya Muhammad Jilly Syahidan bin Marfu’ah.
Adiel : Oh, kucingnya cowok ya?
Maicel : Gak lah, gini gini gua suka cewek dong. Dia malah udah pernah hamil disini, bersalin disini juga, anaknya dua. Cuman sayang, yang ngehamilin dia kucing kampung alay yang cuman dikasih makan ikan asin. Padahal gua udah larang dia biar gak gaul sama kucing kampung itu.
Adiel : -_-“ hehehe, wah seneng ya. Terus sekarang mereka kemana? Kenapa gak tinggal bareng lagi?
Maicel : Gua selalu pengen nangis kalo ceritain dia. Jadi dulu sejak Jilly melahirkan. Anaknya kembar berdua, cuman sengaja gua jual tu anak-anak kucing. Anak dari hubungan diluar nikah sih. Gua sebel. Tapi sebenernya dulu kepepet buat bayar kosan. Yang satu sama si Arya, yang satu lagi dituker pake kompor gas. Ya gitulah sedih banget, “kucing yang ditukar” jadinya. Padahal mereka udah gua anggap seperti anak gua sendiri.
Adiel : Terus si Jilly-nya di kemanain?
Maicel : iya itu dia, si Jilly marah gara-gara gua jual anak-anaknya. Pas gua balik ke kosan abis nganter si Dion ke rumah buku, tau-taunya pintu udah kebuka. Gua panggil-panggil si Jilly, cuman gak ada. Padahal gua udah beli wiskes baru buat dia, makanan favoritnya sih sarden, kadang-kadang makan nasi bekas gua. Aaah, tuh kan gua jadi sedih.. ):
Adiel : terus-terus, kemana emang si Jilliy?
Maicel : ya, pas gua cek ke tempat pup dia, gak ada sama sekali kotoran yang bertengger disana. Terus gua cek lemari dia, baju-bajunya udah gak ada. Terus gua cek kardus tempat dia tidur, ternyata udah rapih banget. Terus gua nemu surat yang terselip disana. Itu surat ditulis langsung pake tulisan tangannya si Jilly, gua baca dan surat itu ngomong sendiri kayak di sinetron-sinetron. dan gua bener-bener kaget dia emang pergi dari kosan gua.

 

Ini seberkas surat dari Jilly

Ini seberkas surat dari Jilly

Adiel : wah dramatis banget ya, emang sebenarnya dia pergi kemana?
Maicel : disurat itu dia gak nulis tujuan dia kemana. Cuman gua khawatir aja takut preman-preman godain dia. Jilly adalah kucing tercantik yang pernah gua temuin di dunia ini.
Adiel : wah maaf ya Maicel jadi gak enak nih ngomongin soal kucingnya yang pergi.
Maicel : gapapa kok. Itu emang salah gua… *isak tangis mulai terdengar
Adiel : eh, hehehe. Udah cel jangan nangis. *tangan saya menepuk-nepuk pundaknya.
Maicel : yang paling pedih tuh dua bulan yang lalu..
Adiel : kenapa lagi emang?
Maicel : gua udah firasat kalo Jilly emang gak baik-baik aja. Dan dua bulan lalu, ada berita pembunuhan kucing di twitter, gua tau itu Jilly. Gua gak mau terus terpuruk lagi kalo inget sama Jilly, hingga suatu waktu gua jalan-jalan sendiri ke pasar ikan. Terdengar suara Jilly ngikutin gua, pas gua nengok ke belakang ternyata itu cuman ikan cupang doang. Gua pikir ini gak mungkin.
Adiel : emang kenapa dengan ikan cupang itu Cel?
Maicel : iya gini, setelah beberapa langkah meninggalkan ikan cupang bersama penjualnya itu. Ada suara Jilly lagi yang terdengar, “Miauw, Miauw, Arrrgh!” katanya. Dan gua baru menyadari, ikan cupang itu adalah hasil reinkarnasi si Jilly. Gua yakin benar, suara barusan adalah dari si cupang itu. Dan gua harus beli tu cupang, buat mengobati rindu gua ke Jilly.
Adiel : Oh jadi ikan cupang yang di meja itu, reinkarnasinya si Jilly? Jadi, Dari kucing bisa ya ke ikan?
Maicel : ini soal keyakinan, semua orang emang bilang gua itu bullshit. Tapi gua yakin itu Jilly, dia masih makan wiskes kok. Tuh makanya airnya aja keruh. O ya, dulu gua beli cupang reinkarnasi ini tukeran pake kompor gas yang waktu itu dipake nuker anaknya si Jilly. Gua gak punya uang waktu jalan-jalan ke pasar ikan.
Adiel : Wah, ceritanya menginspirasi banget ya. Emang sih cinta itu perlu diperjuangkan. Ya udah deh kita akhiri saja wawancara ini, makasih ya udah banyak sharing.
Maicel : hahaha, iya nih. Gua malahan udah laper nih.
Adiel : sini mana uangnya? Mau beli lotek si ema yang di atas.
Maicel : ya telat dong, ini udah jam 9 malam. Mana ada, geus beak lah.
Adiel : Ah bagoy!

Kita dapat belajar dari seorang Andrea ini. Aku jadi berpikir, kadang kebebasan memang dibatasi oleh diri kita sendiri. Aku hanya menerka, bahwasanya Maicel punya kebebasannya sendiri, tentang dunianya, tentang keputusannya, dan tentang prinsip-prinsipnya. Kebebasan mungkin bukan berarti nyata ketika seseorang keluar dari rumahnya. Namun kebebasan adalah melepas belenggu ketakutan diri kita daripada yang kita anggap kejahatan yang akan mengancam kebebasan kita.

TAMAT