Perbincangan Dengan Ratu

Dalam perjalanan hidupnya tidak setiap orang bertemu dengan teman dekatnya. Yang karena dekatnya lalu disebut sebagai sahabat. Saatnya akan tiba, ketika kita mulai membicarakan sahabat ini pada orang terdekat kita di masa depan. Seperti saat ini ketika kita membicarakan tentang masa depan dengan seorang sahabat.

Muda. Kata itu selalu terasa begitu bergairah, penuh semangat, kuat. Dan kapanpun kata itu diucapkan: Masa depan selalu terbayang bagai bentangan waktu yang panjang. Ratu selalu memperbincangkannya denganku. Masa depan adalah topik yang seru untuk diulas. Kita menerka-nerka, menebak-nebak, dan penasaran karenanya. Mungpung kita masih muda, Ratu mengatakannya; himpun semua harapan saat ini, maka suatu saat ia akan meledak bagai bom atom yang tak terbendung kekuatannya. Kemudian kita terhempas seketika terbawa pada sebuah pertemuan, karena harapan telah berwujud menjadi kenyataan.

Apakah harapan hanya utopia yang dengan berjalannya waktu akan hilang ditelan pikiran?

Kita menjawabnya sama. Harapan adalah akar-akar dari mimpi, ia melengkapinya dan menguatkan mimpi menjadi nyata. Seperti seorang petualang kecil yang tinggal di pegunungan, ia ingin bertemu dengan samudera. Ia hanya memimpikannya. Hingga suatu hari petualang kecil menyusuri sungai dengan menaiki kayu gelondongan. Ia melewati air terjun, bebatuan, dan derasnya air sungai. Tak dikira, petualang kecil menemui bibir pantai, sungai membawanya ke laut. Kini impiannya berada di depan mata. Ya, samudera sungguhan.

Aku bertanya pada Ratu; apakah kamu merasa ketakutan, jika sendiri menyusuri sungai serupa bocah petualang itu?

Pada mulanya kita memang sendiri. Dan seharusnya manusia mengurusi dirinya sendiri. Tiap-tiap orang pasti akan melewati lembah itu, bebatuan itu, dan deras itu. Ya, dalam hidupnya. Sekali-kali mungkin orang lain akan menolongmu. namun catat, tak akan selamanya orang lain siap siaga menolongmu. Dirimulah yang paling menyayangi dirimu sendiri. Tolonglah dirimu dan redam rasa takutmu.

Awalnya aku merasa takut, ketika hanya sendiri melewati sebuah perjalanan. Rasanya tak ada yang berpihak padaku saat itu. Hingga aku merasa menjadi manusia paling dikhianati, atau paling bermasalah, dan paling tidak beruntung. Aku pernah merasa tak punya teman untuk sekadar mendengarkan apa yang kurasakan. Tapi aku menyadari, aku hanya perlu mendengarkan diriku sendiri, menolong diriku dari rasa takut dan keterpurukan, lalu berterimakasih pula pada diriku sendiri.

Ratu balik bertanya padaku; namun setelah aku berani menaklukan takutku, aku merasa kesulitan dalam menentukan pilihan. Apakah keberanianku tidak utuh, sehingga menyisakan keragu-raguan?

Keraguan itu semacam ruang antara anak tangga yang di bawah menuju anak tangga yang atas. Ragu adalah saat kamu berada di antara keduanya. Kakimu mengambang menghadap sudut sembilan puluh derajat. Padahal sudah jelas kamu harus naik ke atas, mana mungkin kamu menyusuri tangga dengan berjalan mundur ke bawah. Sedangkan pilihan menantimu menunggu jawaban. Kamu tidak akan lama-lama berada di ruang keraguan. Kamu hanya perlu memijakan kakimu di anak tangga selanjutnya. Itu berarti, pilihanmu adalah pilihan yang menentukan dirimu maju ke atas menuju kepastian selanjutnya. Sebetulnya tidak sulit, kadang kita diberikan pandangan lain sehingga harus menengok kebelakang dulu sebentar.

Ratu, tapi aku makin penasaran. Apakah benar kita dapat menaklukan semua cemas dan kekhawatiran kita? Kadang aku malah merasa bukan apa-apa ketika melihat orang lain berjalan jauh di depan kita. Menambah kecemasanku saja.

Aku ingin mengatakan sesuatu yang tak perlu menjadi pelajaran untuk kita hari ini. Seseorang yang dianggap total dalam pekerjaannya mendapatkan pengakuan karena dibelakangnya ada orang yang benar-benar tidak total. Kita memang tidak harus sama. Mungkin saat itu, kamu menghantarkan orang yang totalitas itu pada eksistensinya yang menjadikannya lebih daripada dirimu yang tidak berderajat totalitas. Tapi, sepertinya kalimat klasik ini akan selalu berlaku “Hidup itu berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah”, kita tak selamanya harus menjadi orang yang tidak total. Kadang kita punya kesadaran untuk mengejar ketotalan kita. Karena sudah jelas, yang totalitaslah yang terbaik. Lalu kenapa kita tidak melakukan totalitas secara bersamaan?; Aku sudah bilang, kali ini jawabanku jangan kamu jadikan pelajaran.

Ratu kembali mengungkap; aku masih penasaran soal masa depan. Kadang kita berubah pikiran saat sedang dalam perjalanan, kita ingin memutar balik atau hendak berbelok arah ditengah-tengah. Apakah kita telah mengkhianati diri kita sendiri sehingga harapan masa depan terlambat untuk dipegang?

Jika kamu mendapati dirimu cepat menyerah sekaligus inkonsisten dengan sejumlah tekad dan cita-cita yang sudah kamu pancangkan di awal perjalanan: Belajarlah menjadi sombong! Bukankah orang sombong selalu punya cukup alasan dalam hidupnya untuk bisa membuktikan semua perkataannya?

Jadilah orang sombong yang baik: tersebab sejatinya kesombongan sepenuhnya merupakan hak Tuhan, maka pinjamlah sebentar, lalu berjalanlah kembali dengan sungguh-sungguh untuk sampai pada pengertian bahwa kesombongan yang tak dibutuhkan jauh lebih hina dan lebih kerdil daripada kekalahan manapun. Dan jangan lupa berdoa: Semoga Tuhan lebih menyayangi orang sombong yang bersungguh-sungguh daripada seorang rendah hati yang pemalas.

Ratu, telah sampai kita pada perbincangan yang sejauh ini. Bagaimanapun juga membahas masa depan tidak akan pernah habis, sebab kita tahu masa depan adalah jerit pintu yang rusak pada esok hari, yang entah bagaimana mana bunyinya berderit. Kita tak akan pernah mengetahuinya. Namun aku hanya ingin meyakinkan, jika kita memperbaiki pintu itu sekarang maka tak ada lagi jerit pintu yang rusak esok hari. Semoga.

1

 

 

 

 

Garut, 3 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s