Tentang Skripsi dan Proksinasi

Setidaknya ada dua bulan lagi buat saya untuk menyelesaikan skripsi sebelum telat buat di daftarkan di sidang. Selama kurang lebih satu bulan ke belakang, saya sedang fokus untuk mencicil skripsi saya. Sayangnya saya gak punya target realistis buat menyelesaikan semua ini. Malah pesismis liat status temen yang sudah selesai dan mau sidang aja. Well, gak usah bandingin kita sama orang lain ya. Selama nulis skripsi sudah tentu sebelum jari-jari saya dihentakkan ke atas keyboard, saya perlu membaca beberapa referensi literatur terlebih dahulu. Saya ingat ketika masih semester tiga dulu, Mr. Mukhyar menyampaikan pada mata kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik bahwa untuk membuat suatu review maka hal yang harus dilakukan adalah, Amati Tiru Modifikasi. Pikirku gak terlalu jorok dari kata plagiarism.

Saya pikir menganalisis sebuah framing dari media gak usah banyak baca buku, cukup kita kritisi saja sendiri. Tapi gak semudah itu. Penelitian saya menggunakan metode kualitatif yang butuh banyak referensi. And critical thinking ternyata juga ada seninya yang perlu kita ketahui dari literatur yang mendukung riset. So gak ada alasan karena waktu mepet buat gak baca buku. Literatur yang berkaitan dengan tema riset saya numpuk banget di perpustakaan, karena referensi yang melimpah-ruah inilah saya jadi kebingungan milih buku yang mana dan berimplikasi pada lambatnya nulis (freak reason). Padahal premis awalnya adalah,Semakin banyak data, semakin banyak tahu, semakin ‘aman’ pula nulis skripsinya”. Based on that situation, saya menyimpulkan bahwa saya ini kena proksinasi.

Alhasil saya berhasil menemukan sebuah buku textbook yang menurut saya related dengan framing media, dan kini selalu menemani saya kemanapun. Buku tebal tanpa gambar itu berjudul Dunia Yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang.

Namun saya tidak menuliskan tulisan ini untuk memberikan gambaran kepada teman-teman akan konsep framing informasi pada media. Tidak pula saya ingin ‘memamerkan’ intisari dari skripsi saya. Saya hanya ingin berbagi cerita perihal impresi yang saya dapatkan setelah membaca buku tersebut.

Dalam buku Dunia Yang Dilipat ini, Yasraf mengkritisi soal keberadaan informasi dalam bentuknya yang sekarang (elektronik-digital) yang telah menimbulkan berbagai pertanyaan ontologis yang serius tentang makna informasi bagi eksistensi manusia. Apakah informasi itu digunakan manusia, atau malah informasi yang menggunakan manusia? Apakah informasi dikendalikan manusia, atau malah informasi itu yang mengendalikan manusia? Apakah informasi itu ada untuk manusia, atau malah manusia ada untuk informasi?

Pertanyaan ontologis lain yang di sampaikan Yasraf adalah: apakah informasi itu perlu ada atau ia ada dalam keberadaan yang melampaui, atau melampaui adanya untuk manusia. Dalam perkembangan mutakhirnya, informasi kini menjadi ada untuk dirinya sendiri (being for itself), bukan ada untuk manusia. Artinya informasi kini ada dalam bentuk informasi untuk informasi (information for the sake of information). Informasi menjadi otonom, tercabut dari manusia yang seharusnya menggunkannya. Informasi kehilangan makna sosialnya, ketika ia membiak di luar kebutuhan sosial yang sesungguhnya, dengan melampaui kebutuhan sosial itu sendiri. Informasi kini menaklukan manusia yang menciptakannya.

Mihaly Csikszentmihayi, di dalam The Evolving Self: A Psychology for the Third Millenium, mengembangkan pemikirian yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihayi menggunakan istilah meme untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup.

Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi, sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya. Jadi, meskipun meme  pada awalnya dibentuk oleh pikiran manusia, ia segera berbalik dan mulai membentuk pikiran itu sendiri.

Disebabkan kemampuannya mengendalikan dan membentuk pikiran manusia dalam rangka keberlanjutannya itulah, meme dikatakan hidup. Informasi kultural (meme) menggunakan energi manusia (perhatian, persepsi, pikiran) sebagai energi hidupnya, sehingga sekali energi itu tidak diperoleh, maka dengan segera informasi akan mengembangbiakkan dirinya. Informasi, dengan demikian mempunyai kehidupannya sendiri, dan keberadaannya di hadapan manusia kadang-kadang bersifat simbiotik, akan tetapi tidak jarang bersifat parasitis.

Nah, dari situlah saya baru sadar, selama hampir empat tahun kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi ternyata saya malah jadi budaknya informasi. Dari pemikirannya Pak Yasraf, selama ini media informasi telah mengkolonialisasi pikiran manusia. Well, dari secarik pemahaman ini semoga bisa menghantarkan saya pada sidang dan pada kelulusan yang sebenar-benarnya.

Advertisements

[ABKM] Selfie, Narsisme, dan Hasrat

Selepas salat dzuhur ada waktu sejenak buat Choqi untuk buka-buka sosmed. Bahkan, Ia sempat-sempatnya membalas status artis idolanya; Iqbal CJR, Titiek Puspa, Cici Paramida, dan Nining Maeda. Dibulan yang mana setan sedang dibekukan ini (nanti dicairkan lagi), Choqi merasa tenteram melihat status teman-temannya yang membagikan hal-hal positive di bulan Ramadhan ini. Timeline-nya lanjut di scroll kebawah. Tiba-tiba, pria dengan berat 110 kg ini dikejutkan dengan foto-foto selfie yang aduhai cantinya. Ditengah rasa lapar, Choqi beristigfar. Ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Penasaran dengan fenomena tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan feature Aku Bertanya maka Kece Menjawab [ABKM] edisi Ramadhan.

Pengisi:

  1. Isyraqi Oki Choqi
  2. Syauqi Rabbani
  3. Ryan Alfian Noor
  4. Muhammad Afif Izzatullah
  5. Ihsan Satriawan
  6. Marcel Tirawan
  7. Adiel Luckman
  8. Stanijuanita
  9. Zulfikar Firdaus
  10. Urwatul Wusqa

Choqi:
[ABKM] eh, ini mah nanya aja yah penasaran, mungkin boleh diskusi bari ngabuburit. Jadi kan ada perintah buat pake hijab yah untuk menutup aurat. saya bahkan suka rada salut sama yang pake hijab, terus foto di media sosialnya susah ditemuin, jadi kalo mau nyari foto buat di edit acara-acara internal susah nyarinya. hehehe.

Tapi gimana hukumnya kalau pakai hijab, terus tiap hari update dan memamerkan wajahnya ke media sosial (secara sengaja)?

ex : “Siang ini cuaca panas” (tapi foto mukanya doang) atau “Semangat kerja dulu ah” (foto muka aja) atau quotes2 inspiratif (foto mukanya doang). Soalnya kan zaman nabi mah belum ada instagram, Facebook, twitter, Friendster, MIRC, YM, dan lain sebagainya

oia, kalau yang foto kegiatan terus ditag mah itu beda kasus yah, karena kan kalo itu mah gimana kuasa yang ngupload.

Syauqi:
Apa hukumnya?
Membuka aurat gak cok?
Kan kalo fiqh muamalah, semua boleh kecuali yg diharamkan. Kalo fiqh ibadah, semua haram kecuali yg dibolehkan.

Choqi:
nah itu dia kang, kan wajah bukan aurat kang. Cuman kan kita sebagai laki laki teh harus jaga pandangan juga yah a.k.a. Godul basor. jadi kalau liat timeline instag dll, otomatis juga gabisa liat lama2 mereun foto si ukhti nya

Ryan:
Tinggal di scroll kebawah chok 🙂

Choqi:
mungkin beda kasus kalau akhwatnya pamerin foto kuku. misalnya “hari ini cape banget kerja” terus foto kukunya. Maka si cowok kan kemungkinan tergodanya kecil. Tapi kalau foto wajah, bisa jadi laki laki bilang “ih, cantik yah” atau “cakep yah” dan bisa tergoda. tergoda untuk memiliki dan menikahi. azeek

Syauqi:
Itu logika yang sama wanita liat photo coki dengan mobil mercy,
“Tajir sholeh ganteng tergoda deehhhh aaakkkk aa cokiiii aaaaa ga tahaaannn”
Apalagi rumahnya istanah.

Ihsan:
-_-

Choqi:
edan wae permainan logika kang syauqi mah euy. salut urang
hhahaha

Afif:
Gak menjawab pertanyaan coki sih. Tapi mungkin related. Pernah denger. Sesuai fiqh. Ngeliat aurat beda dengan ngeliat foto. Kalo urang ngeliat foto aurat cewek di HP, itu artinya urang ngeliat HP. Beda dengan ngeliat secara langsung cewek-nya.

Marcel:
Debatable pip. Banyak beda pendapat, ijtihad ambil yang paling kuat weh.

Afif:
Yap. Urang ge waktu itu gak ikut full kajiannya. Jadi masih perlu tolabul ilmi lagi

Ryan:
Nah pendapat afif mungkin harus disertakan dengan apa yg didenger itu.

Choqi:
kalau liat *maaf* porno di HP, itu berarti konteksnya juga ngeliat HP kalo aku nangkep afif

Syauqi:
Jadi nonton porno boleh karena tidak sama dengan melihat aurat wanita ya pip dari pendapat itu?

Ihsan:
Kalau liat porno tapi tidak nafsu gimana?

Choqi:
gapapa, kan afif juga tidak full
(perlu tolabil ilmi)
kalau liat yang tidak porno tapi nafsu gimana?

Afif:
Iya cok. Literally kaya gitu emang.

Marcel:
Wkwk nah ini kan mulai debat

Choqi:
liat paha ayam, nafsu ingin makan
hhahaha

Afif:
Tapi kalo porno kan syahwat. Itu beda hukumnya.

Syauqi:
Islam menghukumi yang zahir.
Sehingga standar ilmu dan fiqh dan hukum atas dasar yang zahir juga. Buka aurat, nafsu apa kagak, itu zahir, dosa.

Choqi:
Zahir teh apaan kang?

Syauqi:
Nampak cok

Afif:
Yang urang post tadi konteks nya cuma “beda” antara ngeliat via media dengan langsung. Tapi kalo dengan via media itu menimbulkan fitnah atau syahwat beda hukum lagi. Seharusnya haram. Mending nanya lagsung ke ulama atau ustad sih. Jadi seluruh pendapat dari orang-orang disini jangan ditelen mentah-mentah juga. Termsuk saya. Jadi sebaiknya setelah ABKM lagsung bertanya ke ustad atau ulama. Dont take the conclusion from here 🙂

Zulfikar:
Bisi mau baca-baca yeuh, ada bahasan semacam itu disini 

Stanijuanita:
Pertanyaan ka coki hari ini mengingatkan saya pada pertanyaan 2 laki-laki saat bukber fim kemarin.

Ada yg nanya kenapa pp line saya ga gambar wajah saya sendiri?

Salah satunya seperti yg kg choqi bilang, khawatir menimbulkan sesuatu yg lain. Kali ini saya agak berbeda dengan ka syauqi, kalo perempuan ketika ngelihat sesuatu tingkat visualisasinya tidak setinggi laki-laki. Mungkin ya sebagian laki-laki berhenti pada saat bilang,“ih cantik”. Tapi bagaimana dengan mereka yg tidak berhenti pada batas itu?

Ini lebih kepada tingkat ke waro’an (kehati-hatian) diri
#memberikanpandanganversiperempuan :)

Choqi:
iah, ini mah aku juga baru kepikiran tadi fif pas buka2 timeline, jadi langsung nanya kesini. Secepatnya ditanyakan kepada pak yayat.

*pak yayat teh ustadz di rumah urang

FYI, membantu juan, Kenapa tingkat visualisasi wanita dan laki laki berbeda? Karena tingkat hormon pria jauh lebih tinggi daripada perempuan. Memudahkan pria untuk bervisualisasi yang lain lain.

Aduh laki laki, dasar deh. itu kenapa sampe sekarang aku ga suka laki laki

Zulfikar:
Iya di artikel itu juga lebih ke arah bisa menimbulkan fitnah, apalagi cowok pandai berfantasi.

Syauqi:
Dalam hal itu perbedaan pendapat akan cukup besar bahkan dikalangan ulama.

Choqi:
maksudnya nanya diatas teh bukan untuk akhwat aja, maksud juga sebenarnya buat para laki laki juga, selain buat jaga pandangan, juga maksudnya buat saling menngingatkan.

Syauqi:
Sebagian berpendapat burden of responsibility ada pada wanita untuk gak upload sama sekali. Sebagian ulama berpendapat wanita menutup aurat sudah memenuhi kewajiban agama, jika ada fantasi dari pria maka burden of responsibility sudah berpindah ke pria.

Ketika bicara hukum artinya kita bicara “apakah ini dosa?”.

Saya personally mengikut ulama yg kedua, karena bagi saya ga fair sih klo saya fantasiin X gara-gara si X masang photo berjilbab, tapi X yg dosa.

Luckman:
Choqi suka jadi pemeran utama kalo selfie, apakah itu akan menimbulkan rasa?
Rasa samasekali tak ingin memiliki

Choqi:
hhahaha.

Di pandangan urang, selfie teh da tujuannya hep pan agar apa? agar bisa upload. dan biasanya yang ngajeblag muka aku, dan muka aku mah jelek apa adanya, jadi insyaallah, para lawan jenis kalau liat foto selfie aku, bawaannya pingin memiliki, memiliki binatang peliharaan

Urwatul:
Gadhul bashar tujuannya untuk mencegah syahwat, tidak peduli objeknya wanita bercadar, berjilbab, tdk berjilbab, (maaf) bertelanjang, atau objeknya berupa benda (lukisan, foto, patung, hape, dll.)
Wallahu a’lam.

Untuk lebih simpelnya kita pakai logika dalam kehidupan kucing:  ada kucing yang sedang berjalan santai, tiba-tiba anda menggodanya dengan ikan. Ketika ikan tersebut dimakan kucing, anda menyalahkan kucing tersebut yang memakan ikan yang Anda pegang. Dengan demikian,  pria yang melihat-lihat dan memperhatian detail foto akhwat maka dia telah salah dan berdosa akan tetapi perlu diketahui juga bahwa akhwat yang memamerkan foto-fotonya juga ikut andil dalam munculnya kesalahan dan dosa ini. 

Bandung, 25 Juni 2015

[ABKM] S2 atau Kerja dulu?

Sarjana adalah potret terang di depan kamera. Ia menyungging senyum semringah, memakai toga dan baju kebesaran, dengan latar belakang lukisan buku-buku berjilid klasik yang sangat jarang ada di Indonesia, ditambahi kehangatan senyum anggota keluarga. Foto itu kelak adalah tanda sejarah yang meneguhkan keberadaan hingga prestise seseorang, bahkan seluruh keluarganya. Klik!

Mungkin Aldizal saat itu sedang melihat potretnya sendiri pas waktu wisuda. Diruang tamu, Aldi menatap dinding. Tangannya menyentuh-nyentuh frame fotonya dengan lembut, Aldi tersenyum simpul sesekali, melihat dirinya memakai toga dalam potret itu. Dalam senyum terakhir, Ia tiba-tiba kepikiran “Udah lulus ngapain ya, kerja dulu atau langsung S2?”. Begitu kira-kira.

Aldi diselimuti rasa ragu. Namun, pertanyaan atas keraguannya kini terjawab sudah berkat feature “Aku Bertanya maka Kece Menjawab” atau [ABKM] dalam group Whatsapp FIM KECE. Yeah! You’re so lucky Aldizal…

Aldizal Mahendra:

Mau nanya pendapat dong menurut akang teteh. Plus minusnya langsung S-2 sama kerja dulu apa ya? Hehe maaf pagi-pagi lempar isu

Kurniawan Gunadi:

Karena gue milih kerja dulu, gue kasih perspektif gue aja ya Di

Gue memutuskan kerja dulu karena:

  1. Gue gak tau kalo mau S2 mau jurusan apa
  2. Pas semester 8-9 gue kerja, gue merasa apa yg gue pelajari di dunia kerja itu beneran nyata dan yg di kelas itu teori, apa yg gue temuin di kelas itu hampir beda banget sama proses belajar di kelas dan apa yg gue dapat di dunia kerja itu jauh lebih banyak.
  3. Kalo kerja dulu, gue merasa lebih mateng dan nanti kalo mau S2, siap ga cuman teori, tapi udah punya pengalaman di lapangan, ilmu tentang apa yg riil terjadi di lapangan.
  4. Sebelum S2, gue emang mau nyiapain tabungan dan bisnis (krn gw ikhwan-apadeh) jd biar nikah dulu dan siap secara finansial. Karena gue mikirnya kalo S2 langsung, kelamaan.
  5. Gue ga bercita-cita jadi dosen yangg kuliahnya jalur linier, jadi rencana S2 emang pindah jurusan. Ini akan lain cerita kalo temen-temen emang seneng sama jurusannya apalagi yang mau jadi dosen yg kd S2 dan S3.

Ryan Alfian Noor:
Menurut saya justru bergantung sama rencana kita mau gimana. Kalo misal mau sharpening our skill as academician cocok buat langsung S2. Tp klo misal memang tujuannya memang langsung berkarir, saya rasa S1 sudah bisa langsung terjun.

Untuk S2, kenyataannya beberapa kawan saya ada yg di lay off karena harga minyak turun dan sekarang beberapa udah dapat, beberapa masih nyari kampus.

S2 terkadang dapat menyelamatkan seseorang dari pertanyaan “aktivitas skrg apa? Udah kerja dimana?” Hehe..

Aldizal Mahendra:
Ke depannya sih rencananya jadi dosen. Cuman dapet pendapat kalo dosen yang kerja dulu katanya lebih berbobot juga.

Fani Yulinda:
Berdasarkan pengalaman pribadi, bener semua tergantung tujuan awalnya apa. Jika pilih jadi dosen, mau pilih jd dosen pure atau dosen praktisi? Saya pribadi pilih jadi dosen praktisi karena biasanya mahasiswa lebih dapat ilmunya gak cuman teori. tapi kita bisa kasih case real. Saya lanjut S2 sembari kerja, jadi ilmu di S2 bisa langsung kita  praktekin  dan bandingin di dunia kerja, Jadi dua-duanya bisa di barengin.

Syauqi Rabbani:
Istri saya langsung S2. Saya kerja baru berencana S2. Menurut kami berdua,
Bekerja dulu. Terutama kalo S2 nya bukan engineering atau science

NB: There’s a reason why ivy league universities require us to have minimum 2 years working experience. By average, those who take Master in Ivy league have 7-10 years of working experience. CFA, the most prestigious certificate in finance industry and regarded in par with MBA from ivy league, has minimum 4 years working experience.

Fira Aulia:

Sepakat sama Kak Ryan, tergantung tujuan atau rencana hidup, tuntutan ekonomi, dan kemantapan di jurusan sekarang.

Sekedar share, aku mau langsung S2 karena:

  1. Sebelum nikah mau udah selesai sekolah (ga berniat sampe S3). Biar guru pertama anakku min. S2, dan dari penelaah diri, aku kalo belajar harus fokus gak bisa sambil nikah.
  2. Kalo tujuan kerja udah cukup jelas, bidang S2 sesuaikan sama bidang kerja. Biar lebih kompeten di bidang itu
  3. Mau bertualang di lingkungan baru sebelum nikah
  4. Perintah orang tua

Tapi di lain pihak, selama proses ngelanjutin S2 ada beberapa kendala major kayak:

  1. Jauh lebih susah kalo mau non-linear, apalagi kalo univ-nya terkenal. Perlu tambahan seleksi wawancara dgn para pengurus fakultas. (Kecuali S2-nya bidang umum kayak manajemen)
  2. Pas kuliah, yang belum punya pengalaman kerja bakal perlu effort lbh buat ngerjain tugas-tugas kuliah dibandingin yg udah pernah kerja di bidang itu

Kesimpulannya: saranku, kecuali ada tuntutan-tuntutan lain, mending kerja dulu.
NB: mungkin cocok buat Aldi. Bapakku dosen & abis lulus S1 langsung jadi dosen. Nikah, terus lanjut sekolah.

  1. Proyek2 tetep cukup banyak karena selama S2 S3 beliau merajut link dengan orang-orang di keilmuan beliau.
  2. Dengan segera bergabung di jajaran akademisi bidang tersebut, bakal jadi pemain lama alias diseniorkan.
  3. Kalo kuliahmu mau di luar, akan jadi jadi pelajaran kehidupan banget utk anakmu kalo anakmu dibawa hidup di luar sewaktu mereka masih kecil. Baik dari segi bahasa maupun pola hidup.

Well itulah dia beragam pandangan soal pilihan mana yang terbaik, tapi yang pasti pilihan ada di tangan kita. Dan yang paling penting serahkan semuanya pada Tuhan.

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

(Al Baqarah: 216)

*Catatan ini disadur dari percakapan WA tanpa mengurangi konten asli termasuk bahasa