[ABKM] Selfie, Narsisme, dan Hasrat

Selepas salat dzuhur ada waktu sejenak buat Choqi untuk buka-buka sosmed. Bahkan, Ia sempat-sempatnya membalas status artis idolanya; Iqbal CJR, Titiek Puspa, Cici Paramida, dan Nining Maeda. Dibulan yang mana setan sedang dibekukan ini (nanti dicairkan lagi), Choqi merasa tenteram melihat status teman-temannya yang membagikan hal-hal positive di bulan Ramadhan ini. Timeline-nya lanjut di scroll kebawah. Tiba-tiba, pria dengan berat 110 kg ini dikejutkan dengan foto-foto selfie yang aduhai cantinya. Ditengah rasa lapar, Choqi beristigfar. Ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Penasaran dengan fenomena tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan feature Aku Bertanya maka Kece Menjawab [ABKM] edisi Ramadhan.

Pengisi:

  1. Isyraqi Oki Choqi
  2. Syauqi Rabbani
  3. Ryan Alfian Noor
  4. Muhammad Afif Izzatullah
  5. Ihsan Satriawan
  6. Marcel Tirawan
  7. Adiel Luckman
  8. Stanijuanita
  9. Zulfikar Firdaus
  10. Urwatul Wusqa

Choqi:
[ABKM] eh, ini mah nanya aja yah penasaran, mungkin boleh diskusi bari ngabuburit. Jadi kan ada perintah buat pake hijab yah untuk menutup aurat. saya bahkan suka rada salut sama yang pake hijab, terus foto di media sosialnya susah ditemuin, jadi kalo mau nyari foto buat di edit acara-acara internal susah nyarinya. hehehe.

Tapi gimana hukumnya kalau pakai hijab, terus tiap hari update dan memamerkan wajahnya ke media sosial (secara sengaja)?

ex : “Siang ini cuaca panas” (tapi foto mukanya doang) atau “Semangat kerja dulu ah” (foto muka aja) atau quotes2 inspiratif (foto mukanya doang). Soalnya kan zaman nabi mah belum ada instagram, Facebook, twitter, Friendster, MIRC, YM, dan lain sebagainya

oia, kalau yang foto kegiatan terus ditag mah itu beda kasus yah, karena kan kalo itu mah gimana kuasa yang ngupload.

Syauqi:
Apa hukumnya?
Membuka aurat gak cok?
Kan kalo fiqh muamalah, semua boleh kecuali yg diharamkan. Kalo fiqh ibadah, semua haram kecuali yg dibolehkan.

Choqi:
nah itu dia kang, kan wajah bukan aurat kang. Cuman kan kita sebagai laki laki teh harus jaga pandangan juga yah a.k.a. Godul basor. jadi kalau liat timeline instag dll, otomatis juga gabisa liat lama2 mereun foto si ukhti nya

Ryan:
Tinggal di scroll kebawah chok 🙂

Choqi:
mungkin beda kasus kalau akhwatnya pamerin foto kuku. misalnya “hari ini cape banget kerja” terus foto kukunya. Maka si cowok kan kemungkinan tergodanya kecil. Tapi kalau foto wajah, bisa jadi laki laki bilang “ih, cantik yah” atau “cakep yah” dan bisa tergoda. tergoda untuk memiliki dan menikahi. azeek

Syauqi:
Itu logika yang sama wanita liat photo coki dengan mobil mercy,
“Tajir sholeh ganteng tergoda deehhhh aaakkkk aa cokiiii aaaaa ga tahaaannn”
Apalagi rumahnya istanah.

Ihsan:
-_-

Choqi:
edan wae permainan logika kang syauqi mah euy. salut urang
hhahaha

Afif:
Gak menjawab pertanyaan coki sih. Tapi mungkin related. Pernah denger. Sesuai fiqh. Ngeliat aurat beda dengan ngeliat foto. Kalo urang ngeliat foto aurat cewek di HP, itu artinya urang ngeliat HP. Beda dengan ngeliat secara langsung cewek-nya.

Marcel:
Debatable pip. Banyak beda pendapat, ijtihad ambil yang paling kuat weh.

Afif:
Yap. Urang ge waktu itu gak ikut full kajiannya. Jadi masih perlu tolabul ilmi lagi

Ryan:
Nah pendapat afif mungkin harus disertakan dengan apa yg didenger itu.

Choqi:
kalau liat *maaf* porno di HP, itu berarti konteksnya juga ngeliat HP kalo aku nangkep afif

Syauqi:
Jadi nonton porno boleh karena tidak sama dengan melihat aurat wanita ya pip dari pendapat itu?

Ihsan:
Kalau liat porno tapi tidak nafsu gimana?

Choqi:
gapapa, kan afif juga tidak full
(perlu tolabil ilmi)
kalau liat yang tidak porno tapi nafsu gimana?

Afif:
Iya cok. Literally kaya gitu emang.

Marcel:
Wkwk nah ini kan mulai debat

Choqi:
liat paha ayam, nafsu ingin makan
hhahaha

Afif:
Tapi kalo porno kan syahwat. Itu beda hukumnya.

Syauqi:
Islam menghukumi yang zahir.
Sehingga standar ilmu dan fiqh dan hukum atas dasar yang zahir juga. Buka aurat, nafsu apa kagak, itu zahir, dosa.

Choqi:
Zahir teh apaan kang?

Syauqi:
Nampak cok

Afif:
Yang urang post tadi konteks nya cuma “beda” antara ngeliat via media dengan langsung. Tapi kalo dengan via media itu menimbulkan fitnah atau syahwat beda hukum lagi. Seharusnya haram. Mending nanya lagsung ke ulama atau ustad sih. Jadi seluruh pendapat dari orang-orang disini jangan ditelen mentah-mentah juga. Termsuk saya. Jadi sebaiknya setelah ABKM lagsung bertanya ke ustad atau ulama. Dont take the conclusion from here 🙂

Zulfikar:
Bisi mau baca-baca yeuh, ada bahasan semacam itu disini 

Stanijuanita:
Pertanyaan ka coki hari ini mengingatkan saya pada pertanyaan 2 laki-laki saat bukber fim kemarin.

Ada yg nanya kenapa pp line saya ga gambar wajah saya sendiri?

Salah satunya seperti yg kg choqi bilang, khawatir menimbulkan sesuatu yg lain. Kali ini saya agak berbeda dengan ka syauqi, kalo perempuan ketika ngelihat sesuatu tingkat visualisasinya tidak setinggi laki-laki. Mungkin ya sebagian laki-laki berhenti pada saat bilang,“ih cantik”. Tapi bagaimana dengan mereka yg tidak berhenti pada batas itu?

Ini lebih kepada tingkat ke waro’an (kehati-hatian) diri
#memberikanpandanganversiperempuan :)

Choqi:
iah, ini mah aku juga baru kepikiran tadi fif pas buka2 timeline, jadi langsung nanya kesini. Secepatnya ditanyakan kepada pak yayat.

*pak yayat teh ustadz di rumah urang

FYI, membantu juan, Kenapa tingkat visualisasi wanita dan laki laki berbeda? Karena tingkat hormon pria jauh lebih tinggi daripada perempuan. Memudahkan pria untuk bervisualisasi yang lain lain.

Aduh laki laki, dasar deh. itu kenapa sampe sekarang aku ga suka laki laki

Zulfikar:
Iya di artikel itu juga lebih ke arah bisa menimbulkan fitnah, apalagi cowok pandai berfantasi.

Syauqi:
Dalam hal itu perbedaan pendapat akan cukup besar bahkan dikalangan ulama.

Choqi:
maksudnya nanya diatas teh bukan untuk akhwat aja, maksud juga sebenarnya buat para laki laki juga, selain buat jaga pandangan, juga maksudnya buat saling menngingatkan.

Syauqi:
Sebagian berpendapat burden of responsibility ada pada wanita untuk gak upload sama sekali. Sebagian ulama berpendapat wanita menutup aurat sudah memenuhi kewajiban agama, jika ada fantasi dari pria maka burden of responsibility sudah berpindah ke pria.

Ketika bicara hukum artinya kita bicara “apakah ini dosa?”.

Saya personally mengikut ulama yg kedua, karena bagi saya ga fair sih klo saya fantasiin X gara-gara si X masang photo berjilbab, tapi X yg dosa.

Luckman:
Choqi suka jadi pemeran utama kalo selfie, apakah itu akan menimbulkan rasa?
Rasa samasekali tak ingin memiliki

Choqi:
hhahaha.

Di pandangan urang, selfie teh da tujuannya hep pan agar apa? agar bisa upload. dan biasanya yang ngajeblag muka aku, dan muka aku mah jelek apa adanya, jadi insyaallah, para lawan jenis kalau liat foto selfie aku, bawaannya pingin memiliki, memiliki binatang peliharaan

Urwatul:
Gadhul bashar tujuannya untuk mencegah syahwat, tidak peduli objeknya wanita bercadar, berjilbab, tdk berjilbab, (maaf) bertelanjang, atau objeknya berupa benda (lukisan, foto, patung, hape, dll.)
Wallahu a’lam.

Untuk lebih simpelnya kita pakai logika dalam kehidupan kucing:  ada kucing yang sedang berjalan santai, tiba-tiba anda menggodanya dengan ikan. Ketika ikan tersebut dimakan kucing, anda menyalahkan kucing tersebut yang memakan ikan yang Anda pegang. Dengan demikian,  pria yang melihat-lihat dan memperhatian detail foto akhwat maka dia telah salah dan berdosa akan tetapi perlu diketahui juga bahwa akhwat yang memamerkan foto-fotonya juga ikut andil dalam munculnya kesalahan dan dosa ini. 

Bandung, 25 Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s