Menjadi Muslim Minoritas

Ramadhan kali ini banyak saya habiskan bersama keluarga Ibu di Kopo. kalau sudah tak ada kegiatan di luar, saya sering kali berusaha untuk berbuka bersama disini. Namun sayang, karena lingkungan disini mayoritas non muslim, maka ibadah tarawih berjamaah di masjid pun jarang terlakoni. Tak ada masjid terdekat, bahkan mendengar kumandang adzan-pun hanya dari televisi saja. Al hasil, tak ada salat berjamaah ke masjid. Mungkin pantas orang bilang, kalau saya ini lelaki solihah yang salatnya di rumah terus.

Selepas sahur, karena tak pergi ke masjid, saya kadang menonton televisi. Ada program televisi favorit saya di trans7, yaitu Jazirah Islam. Program ini meliput muslim minoritas dari berbagai negara  non muslim di dunia. Saya sangat terkesan dari setiap episode yang ditampilkan, mengingat saya hidup di negara yang mayoritas muslim, tatkala menonton tayangan ini seketika hati saya terkesima melihat perjuangan muslim minoritas di luar indonesia sana.

Subuh ini, episode Jazirah Islam menyambangi muslim di Chile, saya sangat terkesan dengan kisah para mualaf Chile yang berjuang memelihara keimanannya ditengah lingkungan yang bisa dibilang tidak mendukungnya.

Baru sekitar 120 tahun lalu, Islam dibawa ke kawasan Amerikan Latin, oleh warga Arab di bawah kekuasaan Ottoman Turki,  karena itu jumlah muslim di sini masih sangat sedikit. Dan di Temuco, Chile yang tim Jazirah Islam datangi ini, hanya ada 14 muslim warga asli di sini.

Sedikitnya jumlah muslim berimbas juga pada kehidupan sehari-hari mereka. Sarana untuk menjalankan syariat Islam pun sangat terbatas. Tidak ada masjid atau toko makanan halal di sana. Bahkan perkara mencari pekerjaan juga menjadi tantangan ketika mereka memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Itulah yang dialami oleh salah seorang muslim asli Temuco yaitu Javier Avarro atau kini akrab disapa Ali Bilal. Pria berusia 41 tahun ini, diberhentikan dari pekerjaan sebagai psikolog karena pilihan keyakinannya.

“Sebelumnya, saya bekerja di sekolah berasrama. Setiap malam sebelum tidur, saya biasa mendongeng pada anak-anak tentang Allah, dan malaikat. Mereka bisa tidur pulas dan tidak lagi mimpi buruk. Tapi teman-teman saya tidak suka, dan melaporkan pada atasan. Kantor kemudian memecat saya. Mereka juga tidak menyukai baju gamis yang saya kenakan” katanya.

“Saya tidak sedih karena kehilangan pekerjaan. Saya sedih karena berpisah dengan anak-anak. Saya sekarang bisa mengenakan gamis setiap saat, sunnah dari Rasulullah. Saya sangat bahagia kini. Allah telah memberikan surga bagi saya di dunia ini,“ tambahnya.

Awal mengenal Islam dulu, karena banyaknya berita negatif dan prasangka buruk tentang Islam yang sering ia lihat di media massa, membuat Ali penasaran. Namun , Ali justru ingin mencari tahu lebih jauh. Berbagai tantangan dihadapi Ali saat mulai mencari tentang Islam, tidak ada teman muslim yang ia kenal membuat Ali Bilal mencari tahu tentang Islam dari buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan.

Selama 6 bulan ia terus mempelajari secara otodidak, hingga akhirnya kebenaran tentang Islam memikat hatinya.

“Islam itu mudah dan penuh kedamaian. Saya bisa berkomunikasi langsung dengan Allah dan Islam menjawab semua pertanyaan saya,” ujarnya.

Keluarga yang awalnya memandang sebelah mata akhirnya menerima, karena perubahan positif yang dialami Ali Bilal. Ia tidak lagi minum alkohol, tidak berkelahi dan lebih sabar.

Setahun setelah Ali menjadi muslim,  Danielle sang istri pun turut merasakan keindahan Islam  yang menyentuh suaminya. Ia pun turut mengucap dua kalimat syahadat.

Kini untuk menyangga  kehidupannya, Ali Bilal berjualan parfum dari pintu ke pintu. Setelah diberhentikan dari sekkolah tempatnya bekerja, sangat sulit bagi Ali Bilal mendapatkan pekerjaan baru karena banyak orang asing dengan penampilannya. Sudah 3  tahun Ali Bilal berjualan parfum secara mandiri. Setiap hari ia menjajakan parfum mengitari Kota Temuco dan tidak jarang kota-kota sekitarnya.

Jika dibandingkan dengan Ali Bilal, jadi sebenarnya tak ada alasan buat saya untuk tidak pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Sebagai muslim mayoritas, saya telah membuat tembok virtual yang menghalangi niat saya dan seolah-olah menjadi minoritas disini. Semoga besok bisa pergi ke masjid terdekat, kan ada motor. Terima kasih Ali Bilal, untuk inspirasinya subuh ini.

Bandung, 7 Juli 2015
dilukmankan.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s