Ujian

Hari ini alhamdulilah saya telah melewati salah satu tahapan dalam rangkaian ujian menuju sidang skripsi. ujian komprehensif namanya. Dalam pembukaan pagi tadi, sang dekan menyampaikan bahwa ujian ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana calon sarjana menguasai keilmuannya yang didapatkan selama berada di bangku kuliah.

Saya sebenarnya tidak setuju jika ujian semacam ini dijadikan ukuran untuk menentukan sejauh mana wawasan mahasiswa selama ini. Tentunya, sang penguji tidak akan pernah tahu bagaimana implementasi si mahasiswa soal keilmuannya itu, jika yang diuji hanya sebatas teori, teori, dan teori. it was reality, sejumlah rekan saya mendapatkan penguji yang hanya berkutat dalamtextbook.

Bahkan saya menyayangkan hasil ujian yang minim untuk seorang sahabat saya yang ekstra-luarbiasa selama kuliah (pandanganku -red). Well, para peserta yang diuji meyakini bahwa ujian ini adalah ujian keberuntungan. Your score is based on who are your lecturer. Konyol jadinya.

Kecuali, ada satu moment yang membuat saya terkesiap ketika saya berada di hadapan dosen penguji . Saat penguji kedua datang, ada satu pertanyaan yang menurut saya sangat esensi selama ini. Beliau bertanya:

“Jadi, selama kuliah empat tahun ini kamu dapat apa?”

Sejak pertanyaan itu dilemparkan, ingin rasanya menghentikan dulu waktu sejenak. Saya ingin mencoba kembali ke masa lalu, saat pertama kali menginjakan kaki di kampus. apa tujuan saya kuliah. Dan apakah saya telah mendapatkan tujuan tersebut. rumit rasanya.

itu adalah muka polos saya saat pertama kali mengikuti orientasi kampus empat tahun lalu.

Yang saya ingat hanyalah semangat dari seorang pelajar yang polos yang pokoknya ingin kuliah dan jadi sarjana. Tak ada yang spesial. Yang penting ia ingin merubah nasibnya, keluarganya dan apapun itu yang ia ingin rubah. (gak jelas)

Sang penguji tinggal menunggu jawaban saya, beberapa detik itu tidak cukup untuk saya menyelami, dapat apa saya selama ini?.  Saya hanya berfikir “Selama ini saya mendapatkan pelajaran bahwa harga sebuah kesabaran adalah tidak terkira, selama empat tahun saya bersabar menuntut ilmu untuk kemudian diuji apa pengertian ilmu komunikasi menurut para ahli”. oke, itu salah satu jawaban hati saya.

Sebetulnya saya tidak benar-benar bisa menjawab pertanyaan sang penguji tadi. Tapi saya bilang bahwa ilmu yang saya dapat selama ini hanyalah sedikit, saya tidak bisa menyombongkan gelar saya kelak jika sudah sarjana. betapa malunya saya, bahwa saya masih bodoh dan perlu belajar lagi. Saya takut ilmu sedikit yang saya dapatkan selama ini tidak bisa saya pertanggungjawabkan.

Bapak penguji terseyum.
“Mari kita akhiri ujian sesi ini. Semoga ujian ini jadi penanda bahwa kamu telah memetik kesabaran dalam menuntut ilmu,”

Saya teringat sajak Agus R Sarjono berjudul Sajak Palsu yang ditulis tahun 1998:

”Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.” Calon sarjana semestinya bermartabat!

Kampus Cibiru, 30 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s