Ekstasi Sepakbola

konvoi-bobotoh-persib-bandung_20151017_053337-635x350

Minggu pagi kemarin jalanan Bandung lengang, bebas tak seperti biasanya. Kendaraan pelat B yang sering memadati Bandung di akhir pekan tak banyak terlihat. Kalau saja tiap hari seperti ini, tak usah ada car free day segala. Sorenya selepas pulang dari Rancekek bersama seorang kawan, Bandung masih saja lengang. Alhamdulillah. “Solusi macet di Bandung itu, Persib!” kata teman. “Kalo Persib tiap minggu final di Jakarta, Bandung lowong kayak gini nih enak,” tambahnya.

Memang betul final Piala Presiden minggu kemarin sangat menggairahkan massa. Masyarakat Bandung sangat antusias menyambut laga final tim kesayangannya itu, hampir tiap RW pasang layar tancap buat nonton bareng. Jakarta jadi siaga satu, menyingkirkan Riau yang sedang darurat oleh kabut asap. Masyarakat seakan lupa akan duka di bagian Indonesia sana, semua perhatian tertuju pada laga final Piala Presiden.

Piala Presiden seakan meredam dahaga para pecinta bola di Indonesia. Tetangga saya rela berdesak-desakan di bis untuk ikut menonton final di GBK.  Dari pejabat, gubernur, walikota, dokter, ikhwanfillah, ukhtifillah, sampai pegawai gramedia ikut menonton laga final ini. Ribuan bobotoh berkonfoy merayakan kemenangan Persib lepas pertandingan. Sepak bola menggairahkan massa, membangkitkan semangat, dan menggerakkan mereka pada satu tujuan.

Dalam bukunya, Dunia Yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang menyebutkan bahwa tak ada kegiatan di dalam masyarakat saat ini yang dapat membangkitkan gelora ekstasi massa selain dari olahraga. Saya berpendapat bahwa definisi ekstasi di sana ialah rasa candu yang menyenangkan. Kegairahan sepak bola dalam bentuknya yang seperti sekarang (tontonan –red), disebabkan oleh sifat tontonannya yang melibatkan massa, yang telah menjadikannya seakan-akan gravitasi baru yang semua mata, pikiran dan jiwa, bahkan totalitas hidup berpusat dan patuh pada hukum-hukumnya.

Pertandingan sepak bola Piala Dunia pada 1994 di Amerika mampu menghipnotis sekitar satu miliar manusia dalam sebuah tontonan; juga mampu menenggelamkan sejutaan rakyat Rumania dalam ekstasi penyambutan bagi sang bintang sepak bola dunia, Hagi, sambil sejenak melecehkan dan tak mengacuhkan presiden mereka sendiri; kemudian mampu menggerakkan sekitar 500 orang Bangladesh berdemonstrasi membela Maradona, sementara melupakan masalah kekurangan pangan dan bencana alam yang melanda negeri itu, bahkan mampu membuat seorang penonton di Malaysia bunuh diri gara-gara kecewa.

Kenapa olahraga dapat menjadi layaknya satelit, yang berjuta-juta orang patuh mengelilingi orbitnya, dan terbuai oleh rayuan-rayuannya? Menurut Antti Karisto seorang penulis Finlandia, olahraga adalah cara mencapai keadaan ekstasi melalui ascetisism– melalui keletihan puncak. Olahraga adalah satu cara mengisi kehampaan kehidupan modern dengan cara mendekatkan diri pada pengalaman puncak dan menantang bahaya. Dengan mengeluarkan seluruh energi yang berlebihan di dalam diri, sampai pada titik puncak kelelahan, di sanalah diperoleh pengalaman ekstasi.

Christopher Lasch, seorang penulis Amerika, mengatakan bahwa olahraga merupakan candu masyarakat konsumer, yang mampu mengalihkan massa dari masalah-masalah nyata mereka menuju dunia mimpi glamour dan kegairahan ekstasi. Sepak bola, misalnya dapat melupakan orang sejenak dari kemiskinan, kesusahan, kelaparan, bencana alam, bahkan perang.

Holiganisme adalah bentuk lain dari candu sepak bola. Yang dicari para penonton holigan bukanlah keindahan sebuah gol, melainkan puncak kegembiraan sekaligus kekecewaan. Sebagaimana halnya suntikan ekstasi, kegembiraan dan kekecewaan yang ekstrem dapat menghasilkan pengalaman puncak berupa perusakan, pelemparan, pemukulan, perkelahian.

Olahraga dalam wujud tontonan massa yang terorganisasi seperti sekarang ini menjelma menjadi semacam terapi personal dan sosial masyarakat. Di dalam masyarakat yang dikuasai oleh produksi dan konsumsi citraan, tak ada satu sisi kehidupan pun termasuk olahraga yang luput dari penjajahan tontonan, dan tontonan yang berwujud komoditi ini menjadi semacam obat penenang di tengah-tengah berbagai penyakit psikis masyarakat konsumer. Apa yang segera tampak dari penyelenggaraan olahraga yang berdasarkan pada hukum komoditi adalah proses demistifikasi, yaitu lenyapnya nilai ritual, dan menjelmanya olahraga sebagai citraan murni.

Minggu malam sampai senin dini hari masih terdengar suara konfoy para bobotoh yang merayakan kemenangan persib. Suara bising petasan dan kembang api begitu riuh terdengar dari dalam rumah. Alhasil senin pagi jalanan Bandung masih lengang seperti kemarin minggu, mungkin mereka lelah, pikir saya.

gambar diambil disini

Referensi:

1. Christopher Lasch, The Culture of Narcissism, Warner Books, 1979, hlm. 204
2. Eeva Siltavuori, “Ecstasy: a common characteristic of sport and art?”, 1986, hlm.6
3. Jean Baudrillard, Ecstasy of Communication, Semiotext (e), 1987, hlm. 23

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s