Persahabatan

img_20161218_1358121

Barangkali persahabatan semacam medan magnet; Semakin kuat dua kutub serupa dipaksa didekatkan, sekuat itu mereka saling berlawanan. Ketika dua kutub berbeda didekatkan, mereka sulit diceraikan.

jadi, apakah persahabatan sama dan sebangun dengan menemukan manusia yang hanya mejadi cermin bagi keseluruhan diri kita? Apakah persahabatan sesederhana bentuk relasi penuh kepentingan yang memaksakan sejumlah ketentuan seperti “senang sama senang, susah sama susah” atau “berdiri sama tinggi duduk sama rendah”? Apakah bersahabat sepicik ketidakrelaan kita melihat sahabat kita berjalan beberapa langkah di depan kita? Benarkah persahabatan serendah menetapkan batas-batas yang memenjarakan kebebasan untuk menjadi manusia yang memiliki jati dirinya sendiri?

Tentu saja tidak! Persahabatan sejati tidak disandarkan pada kesepakatan terhadap persamaan-persamaan tetapi kebijaksanaan untuk menerima dan memahami perbedaan-perbedaan. Sebab, seseorang yang memuji-muji dirimu sambil menjelek-jelekkan musuhmu adalah seseorang yang sama di waktu lain berkemungkinan menjelek-jelekkan dirimu dan memuji-muji musuhmu.

Maka, segeralah bersalin rupa menjadi manusia yang berhenti mencintai bayangannya sendiri. Temukanlah seseorang yang sanggup berlawanan denganmu, berselisih denganmu, menyakiti hatimu, mengecewakanmu, tetapi dengan semua itu dia sanggup menerima dirimu apa adanya. Memahami keutuhan dirimu yang tak melulu tumbuh dari kebaikan, tetapi juga dari najis dan dosa.

Di sanalah kita akan menemukan makna persahabatan sejati; sebuah momen etis sekaligus momen tragis. Hubungan tak sempurna dari sepasang manusia yang menyadari bahwa hidup tak melulu baik-baik saja, tetapi bersama-sama menghadapi hidup dengan ketegaran, keteguhan, dan perjuangan akan membuat kalian baik-baik saja. Bukan untuk saling mengikat atau membatasi, tetapi saling melepaskan dan membebaskan.

Tentang sahabat yang pernah menyakitimu, maafkanlah. Enyahkanlah rasa benci, dekaplah ia dalam dekat.

Advertisements

Keinginan

IMG_20150731_053122

Temanku ini, seorang pria baik yang taat beribadah, namun seringkali tak begitu beruntung dalam hidupnya.

“Tuhan tahu bahwa apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita.” Aku berusaha membuatnya tenang. Sejujurnya, aku tak punya jawaban lain selain kalimat klise semacam itu. Padahal, dalam hati, aku juga bertanya-tanya: Bukankah Tuhan sudah berjanji akan mengabulkan apa saja yang kita mintakan kepada-Nya?

“Aku akan memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginanku,” katanya.

“Memaksa?” Aku mengonfirmasi pernyataan temanku itu.

Ia mengangguk penuh keyakinan. “Kalau tak bisa diminta secara baik-baik, aku akan memaksanya!”

Tentu saja aku tak pernah menduga bahwa teman yang baik dan salih ini akan mengeluarkan pernyataan sedemikian keras tentang Tuhan. Tetapi, sekali lagi, aku bisa memakluminya: Kekurangan-kekurangan dalam hidupnya, penderitaan dan perjuangan panjangnya, kekhusyukan ibadah dan doa-doa khidmatnya, bagiku, sudah memberinya cukup alasan untuk “menagih” sesuatu pada Tuhan.

“Bagaimana caranya memaksa Tuhan?” Aku tak bisa menduga apapun yang akan temanku lakukan untuk memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginannya.

“Aku akan memintamu mendoakanku, seperti akan kuminta puluhan orang lain mendoakanku.”

Aku terdiam. Temanku melanjutkan.

“Bersama puluhan orang itu, aku akan mengarak doaku untuk menggetarkan langit dan memaksa para malaikat untuk membuka pintu Arasy. Di sanalah para malaikat akan melihat gumpalan-gumpalan doa kita berubah menjelma gelombang cahaya yang demikian besar sehingga membuat mereka silau dan gemetar, sehingga tatkala gelombang itu sampai tepat dihadapan mereka, mereka tak punya pilihan lain selain membukakan pintu langit dan mengantarkannya ke hadapan Tuhan. Dan Tuhan Yang Maha Mengabulkan Semua Doa yang Sampai di HadapanNya, tak bisa lagi menolaknya!”

Aku tercengang: kurang ajar, tapi keren!

“Dengan penuh keyakinan,” aku mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang gemetar, “Aku akan mendoakan apapun yang terbaik untukmu.”