Meet Ibu Wa ode Nurla

img_20161109_232050

Ibu Nurla panggilannya, 53 tahun, dari pagi beberapa kali berpapasan dan gak pernah kelewat nyapa saya terus, stok senyumnya gak pernah habis. Sambil menyapu ia luangkan sejenak waktunya buat nyapa dan senyum sama orang. Hingga saya penasaran buat nyapa balik dan malah jadi ngobrol panjang.

Bu Nurla ini asli orang Pulau Wangi-wangi, delapan tahun sudah mengabdi jadi tukang sapu di kawasan Patuno Resort sampai sekarang. Punya 4 anak lelaki yang semuanya merantau, “Anak terakhir saya sedang test tentara di Ambon,” tampak bangga mengucapkannya.

Saya bilang, saya senang bisa berkunjung kesini, tempat paling tenang yang pernah saya kunjungi. Saya tidak banyak menemukan banyak orang disini dan sekalinya bertemu sama orang sini, ramahnya luar biasa. Bu Nurla tiba-tiba nawarin sebidang tanah miliknya berlokasi dipinggir pantai, ini sungguh mengejutkan. “Ada tebingnya, bagus untuk dibangun villa” terangnya.

Jadi tak disangka setelah cerita, 10 tahun lalu Bu Nurla ternyata pemilik sebagian tanah resort ini juga, dan dia tunjukan pula tanah-tanah lain miliknya sambil menunjuk ke arah sisi lain pulau. “Banyak bule yang mau beli, tapi saya tidak kasih kalau bukan ke orang Indonesia asli,” tambahnya.

Coba bayangkan kalau Bu Nurla punya tanah-tanah ini di Bekasi, udah pasti kaya raya kalau di jual ke developer. Memang tanah disini belum begitu berharga, mayoritas penduduk melaut, hanya sedikit yang berkebun. “Tanah disini kering, paling bisa ditanam jagung saja,” kata Bu Nurla lagi.

Akses transportasi yang terbatas, barang primer yang masih perlu dikirim dari pulau sebrang, SPBU yang hanya buka 3 kali seminggu, listrik yang setiap hari mati, sulitnya air tawar, sinyal yang “EDGE” mungkin hanya beberapa tantangan hidup di pulau ini, tak begitu menantang bagi seorang Bu Nurla. Mungkin bagi anda yang pernah kesini hanya tahu keindahan dasar lautnya saja yang konon menyimpan 70% spesies koral yang ada di bumi, terbalik dengan kehidupan di atasnya yang tak seindah dasar lautnya. Orang membuang banyak materi untuk bisa berada disini, lalu kemanakah uang itu pergi?

Saya ingat seorang teman pernah berkata “Jika kamu menyukai perjalanan, maka laut dan gunung dimanapun akan terlihat sama saja, selanjutnya hanya orang setempat yang akan buatmu terkesan”, seketika perkataan ini muncul dipikiran, saya akan ingat Bu Nurla kalau orang cerita tentang Wakatobi.

img_20161109_221630

Advertisements